ZIMAH TOUR & TRAVEL

Subscribe To Our Newsletter

Persiapan

Sebelum bepergian:

Ketika akan meninggalkan rumah dianjurkan untuk membaca beberapa do'a berikut kepada orang-orang yang ditinggalkan:

"Aku titipkan kalian kepda Allah yang tidak akan hilang titipan-NYA".
(Shohih Hadits Riwayat Ahmad II/403, Ibnu Majah no.2825 dan Ibnu Sunni dalam "Amalul Yaum wal Lailah no. 505)

Do'a keluar rumah:

"Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakkal kepada Allah, dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-NYA".
(Shohih Hadits Riwayat Abu Dawud no. 5095, dan At Tirmidzi no. 3426)

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, jangan sampai aku sesat dan disesatkan (oleh syaithan atau orang-orang yang berwatak syaithan), berbuat kesalahan atau disalahi, tergelincir atau digelincirkan orang, menganiaya atau dianiayaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi."
Shohih Hadits Riwayat Abu Dawud no. 5094, At Tirmidzi no. 3427, An Nasa'i no. VIII/268, Ibnu Majah no. 3884)

Do'a Safar:

"Ya Allah, Rabb tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Rabb tujuh bumi dan apa yang di atasnya, Rabb yang menguasai syaitan-syaitan dan apa yang mereka sesatkan, Rabb yang menguasai angin dan apa yang dihembuskannya.
Kami mohon kepadaMu kebaikan desa/kota ini, kebaikan penduduknya dan apa yang ada di dalamnya. Kami berlindung kepadaMu dari kejelekan desa/kota ini, keburukan pendudukanya dan apa yang ada di dalamnya."

(Hadits Riwayat An Nasai dalam Sunanul Kubra no. 8775, 8776 dan 'Amalul Yaum wal Lailah no. 547, 548.
Ibnu Sunni dalam 'Amalul Yaum wal Lailah no. 524. Al Hakim II/100, dan lain-lain dari sahabat Shuhaib, hadits shohih.
Imam Adz Dzahabi menyetujuinya. Lihat shohih Al Klimith Thoyyib no 179, silsilah AL Hadiits Ash Shohiihah no. 2759, dan Shohiih Al Adzkar no 617/450, shohih).

Do'a Masuk Desa atau Kota:

"Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang di atasnya, Tuhan yang menguasai setan-setan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya.
Aku mogon kepadaMu kebaikan desa ini, kebaikan penduduknya dan apa yang ada di dalamnya.
Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan desa ini, kejelekan penduduknya da apa yang ada di dalamnya.
(HR. Hakim dan lainnya, beliau menshahihkannya dan disetujui Adz-Dzahabi).

Miqot

Miqat adalah ketentuan waktu dan tempat yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Sebelum Tiba di Miqot
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan sebelum tiba di Miqot :

  1. Jika perjalanan dari Jakarta langsung ke jeddah, maka Miqot di Yalamlam.
  2. Jika perjalanan dari Jakarta langsung ke Madinah, maka Miqot di Dzulhulaifah (Bi’r ‘Ali).

Setelah tiba di Miqot :
a. Berwudhu (bagi yang batal)
b. Sholat Sunnah 2 Roka’at (bukan bagian dari rangkaian umroh).
c. Niat Umroh
d. Membaca :

Ya Alloh, aku penuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan umroh.”

“Ya Alloh, aku penuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan umroh. Ya Alloh, inilah ibadah umroh yang tiada riya’ (pamer) padanya dan tiada pula sum’ah (ingin didengar orang)”.
e. Memperbanyak Talbiyah

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Alloh, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji kenikmatan dan kerajaan adalah hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”.
(Shohih Hadits Riwayat Al Bukhori no. 1549, dan Muslim no. 1184 [20-21] dari Abdulloh bin ‘Umar)
f. Mengangkat Suara Ketika Bertalbiyah

“Jibril datang kepadaku lalu berkata : ‘Wahai Muhammad! Perintahkan para sahabatmu agar mengeraskan suara mereka ketika bertalbiyah, karena talbiyah termasuk dari syi’ar ibadah haji”.
(Shohih Hadits Riwayat Ibnu Majah no. 2923, Ibnu Hibban no. 974-Mawaariduz zham’aan, Al Hakim I/450, dan Ahmad V/192. Dishohihkan oleh Al Hakim dan Syeikh Al Bani dalam Silsilah Al Ahaadits as-shohiihah no.830).

Ihram

Sebelum Berihrom :
a. Mandi (Sebagaimana mandi junub)
b. Memotong kuku
c. Mencabut bulu ketiak
d. Mencukur bulu kemaluan
e. Bagi laki-laki merapikan kumis dan membiarkan jenggot
f. Memakai wewangian

Larangan-Larangan Ihrom

  1. Melakukan hubungan intim (jima’) antara suami dan istri.
  2. Bercumbu, mencium, dan memandang dengan syahwat.
  3. Mencukur rambut kepala. Adapaun jika karena sakit atau gangguan di kepala, lalu bercukur, maka harus membayar fidyah,atau memberi makan kepada 6 orang fakir/miskin, atau berpuasa selama 3 hari, atau menyembelih seekor kambing/domba.
  4. Memotong kuku.
  5. Menikah (melakukan akad nikah), menikahkan orang lain, atau meminang seorang wanita
  6. Membunuh binatang buruan.
  7. Memakai minyak wangi, di badan maupun pakaian.
  8. Mengenakan pakaian berjahit yang membentuk tubuh seperti : kemeja,celana, atau gamis.
  9. Menutup kepala dengan sesuatu yang langsung menempel padanya,seperti : peci atau sorban.
  10. Khusus bagi wanita, dilarang memakai niqoob (sejenis penutup muka) dan sarung tangan. Tetapi sekedar menempelkan sehelai kain pada wajah untuk menutup muka dari pandangan kaum laki-laki yang bukan mahromnya, hal tersebut dibolehkan.
  11. Mendekati perbuatan maksiat, permusuhan dan berbantah-bantahan dalam kebatilan.

Makan daging binatang buruan yang dia memiliki andil dalam perburuan tersebut.

Thowaf

  • Sebelum Thowaf :
    • Tetap membaca talbiyah hingga masuk Masjid Al Harom
    • Masuk Masjid Al Harom dengan mendahulukan kaki kanan dan berdo’a :

      “Dengan nama Alloh, semoga sholawat dan salam tercurahkan kepada Rosululloh. Ya Alloh, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku”.
      (Hasan Hadits Riwayat Ibnu Majah no.773, dan Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 86 dari Abu Hurairoh . Diriwayatkan juga oleh Abu Dawudno. 465 dan Ibnu Majah no. 772, dan lainnya dari Abu Humaid as-Sa’idiy)
    • Berdo’a Ketika Melihat Ka’bah
      Ketika anda melihat Ka’bah yang mulia, angkatlah kedua tangan anda (seperti ketika berdo’a) sambil mengucapkan do’a berikut ini, sebagaimana yang dilakukan ‘Umar bin al Khoththob :

      “Ya Alloh, Engkau adalah Mahasejahtera, dari Engkau pula kesejahteraan, maka hidupkanlah kami wahai Robb kami dalam kesejahteraan”.
      (Hasan Hadits Riwayat Al Baihaqi V/73 sanadnya hasan, dihasankan oleh Syeikh Al Bani).
    • Tidak Mengerjakan Sholat Sunnah Tahiyyatul Masjid Ketika Pertama Kali Masuk Masjid Al Harom
  • b. Ketika Thowaf
    Sebelum thowaf

    1. Putaran Pertama

    Mengusap Hajar Aswad dengan tangan kanan, lalu menciumnya (Shohih HR.Muslim no. 1268 [246]). Hal ini dilakukan pada setiap putaran jika memungkinkan, sambil membaca :

    Atau,

    Jika tidak mungkin menciumnya maka :

    • Cukup mengusapnya dengan tangan kanan lalu mencium tangan tersebut sambil membaca dzikir tersebut di atas
    • Jika tetap tidak mungkin mengusapnya dengan tangan,maka cukup memberi isyarat kepadanya dengan tangan kanan sambil mengucapkan do’a di atas tanpa perlu mencium tangan tersebut.

    Etika Thowaf :

    • Janganlah mendesak, mendorong, apalagi menyakiti sesama jama’ah.
    • Thowaf mengelilingi Ka’bah dan menjadikan Ka’bah berada di sebelah kiri sisi badan kita.Laki-laki disunnahkan berlari-lari kecil antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani pada tiga putaran pertama.
    • Mengusap Rukun Yamani dengan tangan kanan tanpa membaca do’a/dzikir tertentu pada setiap putaran apabila hal itu memungkinkan.
    • Ketika berjalan dari Rukun Yamani menuju Hajar Aswad pada setiap putarannya dianjurkan membaca :


    “Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab Neraka”.
    (Hasan Hadits Riwayat Abu Dawud no. 1892, dan lainnya)

    • Jika memungkinkan maka lakukanlah Iltizam.
    • Tidak ada bacaan, wirid, atau dzikir tertentu ketika thowaf, akan tetapi anda dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir mengingat Alloh.

    Bacaan yang mudah yaitu membaca :

    Atau membaca :

    Atau membaca:

    • Putaran Kedua dan Ketiga

    Lakukan hal yang sama seperti pada Putaran Pertama.

    • Putaran Keempat sampai Ketujuh

    Lakukan hal yang sama seperti pada Putaran Pertama, hanya saja pada putaran keempat sampai putaran ketujuh ini laki-laki tidak lagi berlari-lari kecil.

    Catatan tambahan yang perlu diketahui
    pada saat sedang thowaf :

    1. Jika wudhu anda batal maka segeralah berwudhu lalu ulangi putaran thowaf anda, tanpa harus mengulangi dari putaran pertama. Misalnya wudhu anda batal pada putaran keempat, maka setelah berwudhu anda hanya mengulangi putaran yang keempat lalu lanjutkan thowaf hingga selesai. (Lihat Nubdzatut Tahqiiq hal.39)
    2. Jika anda sedang thowaf lalu iqomat dikumandangkan, maka sholatlah bersama imam Masjidil Harom, sesudah salam maka lanjutkan thowaf dari tempat sholat anda.
    3. Jika anda ragu terhadap jumlah putaran thowaf yang telah dikerjakan, apakah tiga putaran atau empat, maka ambilah bilangan yang terkecil, yaitu tiga, lalu lanjutkan hingga selesai.

    Pada akhir thowaf (akhir putaran ketujuh) ketika anda telah kembali di Hajar Aswad, anda tidak lagi mengusap Hajar Aswad dan tidak pula mengangkat tangan memberi isyarat kepadanya, cukup dengan menghadapnya. Dan thowaf selesai.

    • Putaran Kedua dan Ketiga

    Lakukan hal yang sama seperti pada Putaran Pertama.

    • Putaran Keempat sampai Ketujuh

    Lakukan hal yang sama seperti pada Putaran Pertama, hanya saja pada putaran keempat sampai putaran ketujuh ini laki-laki tidak lagi berlari-lari kecil.
    Catatan tambahan yang perlu diketahui
    pada saat sedang thowaf :

    1. Jika wudhu anda batal maka segeralah berwudhu lalu ulangi putaran thowaf anda, tanpa harus mengulangi dari putaran pertama. Misalnya wudhu anda batal pada putaran keempat, maka setelah berwudhu anda hanya mengulangi putaran yang keempat lalu lanjutkan thowaf hingga selesai. (Lihat Nubdzatut Tahqiiq hal.39)
    2. Jika anda sedang thowaf lalu iqomat dikumandangkan, maka sholatlah bersama imam Masjidil Harom, sesudah salam maka lanjutkan thowaf dari tempat sholat anda.
    3. Jika anda ragu terhadap jumlah putaran thowaf yang telah dikerjakan, apakah tiga putaran atau empat, maka ambilah bilangan yang terkecil, yaitu tiga, lalu lanjutkan hingga selesai.

    Pada akhir thowaf (akhir putaran ketujuh) ketika anda telah kembali di Hajar Aswad, anda tidak lagi mengusap Hajar Aswad dan tidak pula mengangkat tangan memberi isyarat kepadanya, cukup dengan menghadapnya. Dan thowaf selesai.

    • Putaran Kedua dan Ketiga

    Lakukan hal yang sama seperti pada Putaran Pertama.

    • Putaran Keempat sampai Ketujuh

    Lakukan hal yang sama seperti pada Putaran Pertama, hanya saja pada putaran keempat sampai putaran ketujuh ini laki-laki tidak lagi berlari-lari kecil.
    Catatan tambahan yang perlu diketahui
    Pada saat sedang thowaf :

    1. Jika wudhu anda batal maka segeralah berwudhu lalu ulangi putaran thowaf anda, tanpa harus mengulangi dari putaran pertama. Misalnya wudhu anda batal pada putaran keempat, maka setelah berwudhu anda hanya mengulangi putaran yang keempat lalu lanjutkan thowaf hingga selesai. (Lihat Nubdzatut Tahqiiq hal.39)
    2. Jika anda sedang thowaf lalu iqomat dikumandangkan, maka sholatlah bersama imam Masjidil Harom, sesudah salam maka lanjutkan thowaf dari tempat sholat anda.
    3. Jika anda ragu terhadap jumlah putaran thowaf yang telah dikerjakan, apakah tiga putaran atau empat, maka ambilah bilangan yang terkecil, yaitu tiga, lalu lanjutkan hingga selesai.

    Pada akhir thowaf (akhir putaran ketujuh) ketika anda telah kembali di Hajar Aswad, anda tidak lagi mengusap Hajar Aswad dan tidak pula mengangkat tangan memberi isyarat kepadanya, cukup dengan menghadapnya. Dan thowaf selesai.

    c. Setelah Thowaf

    1. Tutuplah kedua pundak anda Lalu menuju Maqom Ibrohim sambil membaca :

    1. Kerjakanlah Sholat Sunnah Ba’da Thowaf Dua Roka’at di Belakang Maqom Ibrohim Jika Memungkinkan


    Namun jika tempat tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang sholat, maka sholatlah di mana saja anda mendapat tempat di Masjid Al Harom.
    Bacaan Dalam Sholat Tersebut :
    Roka’at pertama membaca Al Fatihah :

    Dengan menyebut nama Alloh yang maha pemurah lagi maha penyayang. Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam. Maha pemurah lagi maha penyayang. Penguasa hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukanlah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) merekayang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. ( QS. Al Fatihah : 1- 7)
    Lalu membaca Surat Al Kafirun pada roka’at pertama :

    Katakanlah (Muhammad) : Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak mau menyembah (Alloh) yang aku sembah. Dan aku tidak akan beribadah seperti kamu beribadah. Dan kmu pula tidak mau beribadah seperti aku beribadah. Untukmu agamamu, dan bagiki agamku. (QS. Al Kafirun : 1 – 6)
    Pada roka’at kedua setelah membaca Al Fatihah, dilanjutkan membaca Surat Al Ikhlas :

    Katakanlah (Muhammad) : Dialah Alloh yang Mahaesa. Alloh tempat meminta segala sesuatu. (Alloh) tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara denga-Nya. (QS. Al Ikhlas : 1 – 4)
    Setelah Sholat Dua Roka’at, Dianjurkan Minum Air Zamzam
    Karena ia memiliki banyak keutamaan. Diantaranya Nabi bersabda :

    “Air Zamzam (tergantung) dari niat orang yang meminumnya”.
    (Shohih Hadits Riwayat Ahmad III/357,372, dan Ibnu Majah no.3062)
    Dianjurkan untuk menuangkannya di atas kepala sambil berdo’a Abdulloh bin Abbas, ketika beliu meminumnya, yaitu :

    “Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon kepada Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang luas, dan penawar (obat) bagi semua penyakit”.
    (Hadits Riwayat Ad Daroquthni no. 2701, dan Al Hakim I/473)
    Setelah Minum Air Zamzam dan Sebelum Melaksanakan Sa’i Umroh, dianjurkan Kembali ke Hajar Aswad untuk Mengusap dan Menciumnya
    Jika tidak mampu mendekat, maka cukup memberi isyarat kepadanya dari jauh dengan tangan dengan membaca “Allohu Akbar ” atau “Bismillahi Alluhu Akbar”.

    Sa'i

    a. Sebelum Sa’i

    Berjalan menuju Shofa untuk melaksanakan Sa’i diantara Shofa dan Marwah. Ketika telah dekat dengan bukit Shofa, bacalah ayat ini :


    “Sesungguhnya Shofa dan Marwah merupakan sebagian dari syi’ar (agama) Alloh”. (QS. Al Baqoroh : 158).
    Atau membaca :

    “Sesungguhnya Shofa dan Marwah merupakan sebagian dari syi’ar (agama) Alloh. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitulloh atau berumroh, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’I antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Alloh Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqoroh : 158).
    Lalu bacalah :

    “Aku memulai dengan apa yang dimulai Alloh’.
    (Shoih Hadits Riwayat Muslim no. 1218[147])

    b. Ketika Sa’i
    Putaran Pertama
    (Dari Shofa ke Marwah)

    1. Naiklah hingga berada di bukit Shofa, lalu menghadap ke arah Ka’bah (melihat Ka’bah jika memungkinkan) dan baca dzikir poin 1, 2, dan 3 di bawah ini:
      (Lihat Kitab Manaasikul Hajj wal ‘Umroh n0. 3 karya Syeikh Al Bani)

      “Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar”.

      “Tiada ilah yang hak, kecuali Alloh semata, tiada sekutu bagi-NYA, hanya Dia yang memiliki kekuasaan dan hanya Dia pula yang memiliki pujian, Dia yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu”.

      “Tiada ilah yang hak, kecuali Alloh semata, tiada ekutu bagi-NYA, Dia telah melaksanakan janji-NYA, menolong hamba-NYA, dan Dia satu-satunya yang telah mengalahkan bala tentara persekutun (kaum musyrikin)”.
      Berdo’a dengan do’a apa saja yang dikehendaki, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Diantaranya :

      “Ya Alloh, sesungguhnya Engkau telah berfirman ; ‘Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku akan memperkenankanmu dan bahwasannya Engkau tidak akan menyalahi janji dan sesungguhnya aku memohon kepada Mu; sebagaimana Engkau telah menunjuki aku ke dalam Islam, maka janganlah Engkau mencabutnya dari ku sehingga Engkau mewafatkan aku dalam keadaan Muslim”.
      (Do’a ini dibaca oleh Ibnu ‘Umar ketika berada di bukit Shofa, Hadits Shohih riwayat Malik dalam Al Muwaththo’ [no.732]/Kitabul Hajji I/300, no. 128)
      Ditambah dengan do’a-do’a yang anda hafal yang shohih, atau kalau tidak bisa boleh juga berdo’a dengan bahasa Indonesia.
    2. Ulangi membaca dzikir sama seperti pada bagian a poin 1, 2, dan 3.
    3. Berdo’a sekali lagi
    4. Ulangi lagi dzikir sama seperti pada bagian a poin 1, 2, dan 3.
    5. Anda langsung turun dari Bukit Shofa dan berjalan menuju Marwah. Perbanyaklah dzikir kepada Alloh, atau berdo’a dengan do’a-do’a yang ma’tsur ( yang diriwayatkan oleh Rosululloh dan para sahabatnya), atau membaca sholawat, atau boleh juga membaca Al Qur’an.
    6. Laki-laki dianjurkan berlari-lari kecil dengan cepat dan sungguh-sungguh (pada tanda garis hijau).

    Dan ketika berlari tersebut dianjurkan membaca do’a yang dibaca oleh Abdulloh bin Mas’ud dan Abdulloh bin ‘Umar:

    “Ya Robbku, ampunilah dan rahmatilah (aku), sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Pemurah”.
    (Shohih Hadits Riwayat Ibnu Abi Syaibah no. 15790. Lihat Kitab Manaasikul Hajj wal ‘Umroh 55/27 karya Syeikh Al Bani)

    Putaran Kedua
    (Dari Marwah ke Shofa)

    1. Naiklah hingga berada di atas bukit Marwah, lalu menghadap ke arah Ka’bah baca dzikir poin 1, 2, dan 3 di bawah ini:
      (Lihat Kitab Manaasikul Hajj wal ‘Umroh no. 3 karya Syeikh Al Bani)

      “Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar”.

      “Tiada ilah yang hak, keculi Alloh semata, tiada sekutu bagi-NYA, hanya Dia yang memilki kekuasaan dan hanya Dia pula yang memiliki pujian, Dia yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu”.

      “Tiada ilah yang hak, kecuali Alloh semata, tiada ekutu bagi-NYA, Dia telah melaksanakan janji-NYA, menolong hamba-NYA, dan Dia satu-satunya yang telah mengalahkan bala tentara persekutun (kaum musyrikin)”.
    2. Berdo’a dengan do’a apa saja yang dikehendaki.
    3. Ulangi membaca dzikir sama seperti pada bagian a poin 1, 2, dan 3.
    4. Berdo’a sekali lagi
    5. Ulangi lagi dzikir sama seperti pada bagian a poin 1, 2, dan 3,
    6. Anda langsung turun dari Bukit Marwah dan berjalan menuju Shofa.
    7. Laki-laki dianjurkan berlari-lari kecil dengan cepat dan sungguh-sungguh (pada tanda garis hijau).

    Dan ketika berlari tersebut dianjurkan membaca do’a yang dibaca oleh Abdulloh bin Mas’ud dan Abdulloh bin ‘Umar :

    “Ya Robbku, ampunilah dan rahmatilah (aku), sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Pemurah”.
    (Shohih Hadits Riwayat Ibnu Abi Syaibah no. 15790. Lihat Kitab Manaasikul Hajj wal ‘Umroh 55/27 karya Syeikh Al Bani)
    Putaran Ketiga
    (Dari Shofa ke Marwah)
    Lakukanlah hal yang sama seperti pada putaran pertama.
    Putaran Keempat
    (Dari Marwah ke Shofa)
    Lakukanlah hal yang sama seperti pada putaran kedua.
    Putaran Kelima
    (Dari Shofa ke Marwah)
    Lakukanlah hal yang sama seperti pada putaran pertama.
    Putaran Keenam
    (Dari Marwah ke Shofa)
    Lakukanlah hal yang sama seperti pada putaran kedua.
    Putaran Ketujuh
    (Dari Shofa ke Marwah)
    Lakukanlah hal yang sama seperti pada putaran pertama. Hanya saja, ketika tiba di Marwah anda langsung keluar dari pintu Marwah tanpa menghadap ke arah Kiblat ataupun membaca dzikir dan do’a. Dengan demikian berakhirlah sa’i anda.
    Setelah selesai sa’i dan keluar dari pintu Marwah, maka yang anda lakukan setelahnya adalah bertahallul (mencukur rambut).

    c. Setelah Sa’i
    Ketika tiba di Marwah anda langsung keluar dari pintu Marwah tanpa menghadap ke arah Kiblat ataupun membaca dzikir dan do’a. Dengan demikian berakhirlah sa’i anda.
    Setelah selesai sa’i dan keluar dari pintu Marwah, maka yang anda lakukan setelahnya adalah bertahallul (mencukur rambut).

    Tahalul

    a. Bagi Laki-Laki, lebih Afdhol Mencukur Gundul Rambut Kepalanya
    Rosululloh bersabda :

    “Ya Alloh, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya! Mereka (para sahabat) berkata : Dan orang-orang yang memendekan rambutnya, wahai Rosululloh? Nabi berdo’a lagi : Ya Alloh, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya! Mereka kembali berkata : Dan orang-orang yang memendekan rambutnya, wahai Rosululloh? Maka Nabi menjawab : Dan orang-orang yang memendekan rambutnya”.
    (Diriwayatkan oleh Al Bukhori no. 1727 dan Muslim no. 1301)

    b. Bagi Wanita, dengan Mengumpulkan Rambutnya dari Seluruh Bagian Kepala, Lalu Memotongnya Sepanjang Satu Ruas Jari.
    (Manasiikul Hajji wal ‘Umroh hal. 68 karya Syeikh Muhammad bin Sholih ‘Utsaimin)
    Peringatan!
    Bagi laki-laki yang bertahallul dengan hanya mencukur sedikit rambut, tidak seluruhnya, maka perbuatan ini tidak ada dasarnya dari sunnah Rosululloh


    Dengan melakukan tahallul ini, berarti selesailah kegiatan ibadah umroh, dan anda dibolehkan kembali mengerjakan hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika dalam keadaan berihrom.

    Video